RSS

Class Review 4 : We Need More Time

31 Mar

Fenomena unik atau dapat disebut juga sebagai fenomena aneh, barisan pertama dalam kelas selalu tak bertuan. Mahasiswa dan mahasiswi berbondong-bondong mencari posisi tempat duduk pada barisan terakhir. Entahlah apa tujuan mereka. Pada akhirnya keadaan tersebut pun tidak dapat menghindarkan mahasiswa dan mahasiswi dari kritikan dan saran yang keluar dengan lantang dan tegasnya dari mulut dosen pengajar mata kuliah writing and composition 2 ini. Meskipun seorang mahasiswa yang duduk pada barisan pertama tidak dapat dikatakan bahwa dia akan mendapatkan proses pembelajaran yang maksimal, namun setidaknya barisan pertama merupakan barisan yang memiliki posisi yang strategis untuk para mahasiswa dan mahasiswi dalam proses pembelajaran di kelas.

Posisi tempat duduk pun terlihat lebih rapih dan sedap dipandang. Tentu saja hal ini menjadikan proses pengajaran lebih maksimal dan nampaknya mahasiswa dan mahasiswi lebih serius dalam mendengarkan penjelasan dosen pengajar. Barisan paling akhirlah yang mau tidak mau harus mendapatkan giliran untuk tidak memiliki tuan. Namun hal tersebut tidaklah masalah, karena barisan terakhir identik sebagai posisi duduk yang difungsikan oleh mahasiswa atau mahasiswi
untuk proses ngerumpi bareng saat proses pembelajaran.

Materi pembukaan atau hal-hal yang disampaikan oleh dosen pengajar pada awal pertemuan kali ini cukup meluas. Tidak seperti pertemuan-pertemuan lalu yang secara langsung memasuki materi tentang class review dan text respone sejak menit awal pertemuan. Pertemuan kali ini banyak aspek yang disentuh dan dikritik terlebih dahulu oleh dosen pengajar untuk meningkatkan keefektifitasan proses belajar.

Ada sebuah informasi atau dapat disebut juga kabar yang sangat menyenangkan dan juga patut dibanggakan oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi PBI semester dua, khususnya kelas PBI C. Progress atau perkembangan yang sangat signifikan dalam menulis dinilai oleh dosen pengajar telah didapatkan oleh seluruh mahasiswa dan mahasiwi. Statement tersebut dilandaskan oleh fakta dan juga penilaian dosen pengajar sejak awal pertemuan sampai pada pertemuan kali ini. Perkembangan dari setiap mahasiswa atau mahasiswi dapat dilihat dalam siklus empat pertemuan. Apakah empat pertemuan selanjutnya mahasiswa dan mahasiswi dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya dalam menulis? Hanya merekalah yang dapat menentukan ke arah mana mereka melangkah. Perkembangan yang signifikan dalam menulis telah didapatkan oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi dalam empat pertemuan terakhir ini.

Signifikannya perkembangan yang didapat seluruh mahasiswa dan mahasiswi memunculkan sebuah keyakinan. Dosen pengajar meyakini bahwa kualitas menulis yang baik dan benar telah dimiliki oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi. Entah apa alasan dari pernyataan tersebut. Namun tak begitu lama dari pernyataan tersebut, alasan dari keyakinan dosen pengajar pun terungkap setelah beliau memaparkan sebuah alasan yang melatarbelakangi keyakinan tersebut. Prior knowledge alias schemata atau lebih dikenal dengan istilah background knowledge adalah alasan mengapa adanya keyakinan yang mengatakan bahwa seluruh mahasiswa dan mahasiswi akan mendapatkan perkembangan yang signifikan dalam menulis setiap waktunya.
Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan prior knowledge atau background knowledge? Apabila membahas dan membicarakan tentang apa pengertian dari hal tersebut, mau tidak mau pembahasan akan merambat kepada pembahasan tentang learning experience. Mengapa? Karena prior knowledge atau background knowledge memiliki hubungan yang sangat erat dengan learning experience khususnyay learning experience di masa lalu. Itulah mengapa berbagai keyakinan yang menyatakan bahwa seluruh mahasiswa dan mahasiswi akan selalu mendapatkan kemajuan setiap waktunya muncul ke permukaan.

Perkembangan yang signifikan dapat dipastikan akan didapatkan mahasiswa dan mahasiswi apabila mereka mendapat perkembangan yang hebat di hari ini. Berkembang ataukah tidak kemampuan mereka di waktu mendatang, semua itu tergantung oleh apa yang didapat pada hari ini.

Sebelum pertemuan kali ini memasuki menu utama yaitu mengoreksi hasil tulisan rekan-rekan mahasiswa atau mahasiswi. Untuk kesekian kalinya mahasiswa dijejalkan oleh saran-saran agar mereka dapat menjadi individu yang berkualitas dalam tulis menulis. Proses pembelajaran yang berkualitas dan proses pentransferan yang berjalan di arah yang benar adalah proses pembelajaran yang memiliki engagement atau keterlibatan. Di dalam faktor ini, yaitu engagement, terdapat beberapa hal yang harus menjadi pegangan oleh mahasiswa dan mahasiswi dalam proses pembelajaran agar bisa didapatkannya hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran. Physically, mentally, dan verbally, itulah hal hal yang harus dijadikan patokan. Apabila ketiga hal tersebut dapat menjadi bagian dari diri setiap mahasiswa dan mahasiswi, maka dapat disimpulkan mahasiswa atau mahasiswi tersebut telah memiliki proses pembelajaran yang baik dan benar. Discernible growth akan didapatkan oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi apabila tiga hal tersebut bisa dilahap dengan sempurna oleh mereka.

Kegiatan menulis bukan hanya menulis. Menulis yang baik harus diimbangi dengan keahlian membaca yang baik pula. Seorang penulis yang bermutu tinggi dan berkualitas nomor wahid pastilah orang yang memiliki kemampuan membaca yang sama fantastisnya dengan cara dia menulis. Proses membaca pun bukan membaca tanpa arah dan tujuan, tetapi proses membaca yang mencakup mental dan material. Dua hal yang dicangkup oleh proses membaca tersebut haruslah seimbang agar dapat memunculkan suatu proses membaca yang dapat mendukung terciptanya karya tulis yang fantastis.
Setelah proses membaca dapat mendukung proses menulis, mahasiswa harus dapat mendukung hal-hal yang ditulis mereka dalam karya tulisnya. Argumen-argumen harus disertakan, yaitu argumen yang memiliki idea atau opini, analysis, dan evidence. Setelah pemaparan di atas tentang hal-hal yang harus dipenuhi mahasiswa juga mahasiswi untuk menjadi pribadi yang berkualitas dalam menulis, maka dapat dikatakan bahwa membentuk keahlian menulis tidaklah mudah, bahkan lebih sulit dari soal-soal trigonometri di bangku sekolahan.

Waktu untuk menu utama tiba, setelah dosen pengajar merasa puas dan cukup dalam memberikan saran-saran kepada mahasiswa dan mahasiswi. Mahasiswa dan mahasiswi dihadapkan dengan lembaran ketiga yang terdiri dari banyak soal yang harus diisi oleh mereka. Kegiatan pengisiian ini bertujuan untuk memberikan masukan dan saran kepada rekan belajar, sehingga dapat meningkatkan kemmpuan menulis mereka dan dapt merevisi tulisan merek agar menjadi lebih sempurna, baik dari segi bahasa ataupun dari segi idea atau gagasan dalam tulisan. “We Need More Time” mungkin kalimat tersebut sangat cocok untuk menggambarkan pengisiian lembar ketiga tersebut. Waktu yang diberikan kepada mahasiswa dan mahasiswi untuk mengisiinya dirasa tidak cukup dan oleh sebab itu proses pengisiian ini dijadikan sebagai tugas tambahan disamping membuat class review.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2013 in aldha williyan

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: