RSS

Text Respone 1 : Madani is the Beginning

07 Mar

Text respone pertama ini akan membahas tentang sebuah artikel yang berjudul “Baca Tulis masyarakat Madani”. Namun alangkah lebih baiknya apabila kita ketahui terlebih dahulu apa itu text respone. Text respone adalah sebuah respone yang diarahkan kepada sebuah artikel atau sebuah informasi berupa opini dari pembaca, baik itu berupa persetujuan ataupun pertidaksetujuan. Dengan adanya text respone ini diharapkan mahasiswa dan mahasiswi mampu menyalurkan dan mampu meyampaikan pendapat yang terpendam di dalam hati agar bisa menjadi pembaca yang selektif dalam membaca sebuah bacaan.

Sebelum kita memasuki artikel lebih mendalam melalui text respone ini, sangat diperlukan untuk mengetahui tentang definisi atau pengertian dari masyarakat madani itu tersendiri terlebih dahulu. Menurut kamus besar bahasa indonesia, definisi dari masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban. Maksud dari kata berperadaban sendiri adalah proses belajar secara kolektif dan sepanjang sejarah sehingga mencapai derajat cultured, yakni masyarakat yang berpendidikan, yang indikatornya mencakup kemampuan membaca dan menulis. Sedangakan maksud dari kata bermadani di sini memiliki maksud pemertahanan nilai nilai tradisional dan pada waktu yang bersamaan disalinghadapkan dengan ilmu dan teknologi yang tidak sabar untuk berlari tanpa henti.

Keadaan dimana para pengamat sosial politik mandambakan munculnya masyarakat madani di dalam kehidupan masyarakat kita adalah keadaan yang sangat wajar. Mengapa saya katakan demikian, karena dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah masyarakat yang terbaik diantara yang terbaik, di samping mereka masih tetap menjunjung tinggi dan mempertahankan nilai nilai dan norma norma tradisional, mereka juga meyempurnakan semuanya dengan penguasaan ilmu, teknologi yang terus berkembang tiap harinya. Dengan adanya masyarakat madani ini kehidupan sosial dimasyarakat akan lebih teratur dan lebih berjalan di arah yang benar serta mudah mendapat sebuah kesejahteraan, itulah mengapa para pengamat sosial politik mandambakan munculnya masyarakat madani, karena saya pribadi pun sangat mendukung apabila masyarakat madani bisa tumbuh dan berkembang di kehidupan kita.

Namun demikian, tidak ada satu halpun yang tercipta dan tersusun secara instan. Memasak mie instanpun butuh beberapa hal yang harus dilakukan terlebih dahulu, apalagi dalam usaha menciptakan masyarakat madani, karena masyarakat madani bukanlah masyarakat yang terbangun sekali jadi. Masyarakat madani adalah masyarakat yang dibentuk dari poses sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus. Oleh karena itu, sebelum kita memikirkan dan membayangkan akan indahnya kehidupan di masyarakat apabila masyarakat madani dapat terbentuk, kita selaku anggota dalam masyarakat harus memikirkan juga langkah langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menunjang terciptanya masyarakat madani tersebut. Terdapat beberapa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menciptakan masyarakat madani, yakni adanya democratic governance, yaitu pemerintahan demokratis yang dipilih dan berkuasa secara demokratis dan democratic civilian, yaitu masyarakat sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai civil security dan civil responsibility serta civil resilience. Hal tersebutlah yang harus dipikirkan secara mendalam sebelum kita memikirkan indahnya dunia dengan terbentuknya masyarakat madani.

Sesuai dengan judul artikel, yaitu “Baca tulis masyarakat madani”, tentu saja artikel ini akan membahas tentang kemampuan masyarakat dalam membaca dan menulis. Opini yang telah ditulis dalam artikel, yaitu yang menyebutkan bahwa semua masyarakat sebenarnya mempunyai kemampuan membaca dan menulis memang benar adanya. Namun tidak semua kemampuan membaca dan menulis dari masyarakat itu termasuk dalam kriteria baik, karena kriteria baik dari membaca dan menulis adalah kegiatan membaca yang mampu memberikan keputusan sosial yang bertanggungjawab dan kegiatan menulis secara kritis untuk mengaktualisasikan peran sosialnya atau singkatnya menulis dan membaca yang baik adalah yang bersifat madani.

Artikel ini sangat bermanfaat dan juga mengandung banyak unsur motivasi, khususnya bagi seluruh masyarakat untuk selalu mengembangkan pribadinya masing masing menjadi pribadi yang memiliki kemampuan menulis dan membaca yang tentunya bersifat madani. Dengan dituliskannya tujuan tujuan dan manfaat manfaat yang akan muncul apabila konsep menulis dan membaca madani ini berjalan, tentu akan membuat masyarakat berfikir bagaimana caranya agar diri mereka bisa mencapai target menjadi masyarakat madani.

Banyak sekali tujuan dan manfaat yang dituliskan dalam artikel ini. Membangun hubungan emosional antara warga dan bahkan dapat menjadi media untuk pemertahanan demokrasi, itulah beberapa manfaaat dari membaca dan menulis yang berbasis madani. Bukan hanya sekedar itu, baca tulis yang berbasis madani dapat juga menjadi sarana untuk memohon informasi atau bantuan, sebagai sarana menyatakan hubungan personal maupun kolektif sebagai warga masyarakat, sarana untuk menyuguhkan informasi kepada publik, dan dapat juga sebagai sarana untuk mengevaluaasi kinerja petugas layanan publik. Itulah mengapa saya katakan bahwa artikel ini sangat bermanfaat dan juga mengandung banyak unsur motivasi, khususnya bagi seluruh anggota masyarakat.

Apabila konsep baca tulis dapat berkembang dalam kehidupan bermasyarakat otomatis akan menular dan menjalar ke kehidupan atau dunia persekolahaan, dimana dengan adanya konsep baca tulis tersebut siswa akan dapat meningkatkan rasa percaya diri dan keterampilan retorika mereka. Pendapat yang saya kembangkan ini sejalan dengan apa yang dituliskan di dalam artikel ini, bahwasanya baca tulis madani akan dapat melatih siswa dalam menganalisis teks, mengidentifikasi karakteristik text, sasaran membaca, dan tujuan penulisan. Tidak selesai sampai di situ , manfaat dari baca tulis madani juga dapat melatih siswa untuk mencermati keujujuran, objektivitas dan efektivitas dalam penulisan.
Setelah kita membaca artikel dengan seksama, sebuah fakta tentang literasi atau kemampuan membaca dan menulis akan terungkap. Terus terang saya pribadi pun baru mengetahui tentang fakta ini. Ternyata apabila kita mempelajari literasi lebih mendalam, kita akan mengetahui bahwa literasi memiliki beberapa tingkatan, yakni performative sebagai tingkatan pertama yang sejajar dengan tingkatan pendidikan SD, functional sebagai tingkatan kedua yang sejajar dengan tingkatan pendidikan SMP, informational sebagai tingkatan ketiga yang sejajar dengan tingkatanj pendidikan SMA, dan epistemic sebagai tingkatan pendidikan yang terakhir yang sejajar dengan tingkatan pendidikan perguruan tinggi.
Dalam realita kehidupan pendidikan terutama di negara kita, banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik dan benar atau dalam istilah lain disebut setengah literat. Keadaan demikian disebabkan oleh alasan alasan yang tertulis dalam artikel ini, yakni kita terlalu menyepelekan keempat tingkatan diatas dan hanya lebih fokus pada tingkatan terakhir saja, ynag otomatis akan memunculkan presepsi bahwa hanya dengan proses perkuliahan yang didasari dengan tingkatan yang terakhir akan bisa menyulap mahasiswa yang produktif dalam menulis. Segala sesuatu akan berjalan dan mendapatkan perkembangan yang fantastis apabila sesuatu tersebut berjalan atau tersusun secara sistematis atau dalam istilah lainnya disebut dengan step by step, hal ini berlaku juga dalam usaha membangun mahasiswa mahasiswa menjadi lebih produktif menulis.

Semua isi dari artikel ini memang benar adanya dan saya pribadi memberikan dukungan yang sangat besar untuk apa yang diinginkan artikel ini. Untuk mampu produktif menulis dalam bahasa indonesia pun sungguh sangat sulit mewujudkannya, apalagi menulis dengan bahasa asing, artikel ini membuat sebuah saran yang memang sangat cocok sebagai cara untuk membangun mahasiswa yang baik, yaitu pendidikan bahasa pertama yang baik akan meretas jalan bagi pendidikan bahasa asing.

Terdapat beberapa pendapat yang tertulis didalam artikel ini, yang menurut saya kurang tepat sebagai langkah mengembangkan kemampuann menulis mahasiswa. Pernyataan bahwa budaya ucap-dengar lebih eksis dibandingkan dengan budaya baca-tulis memang benar menurut saya, tetapi bukan berarti harus menghilangkan budaya ucap-dengar dan selalu memfokuskan kepada budaya baca-tulis. Langkah yang paling baik dan benar untuk menyelesaikan masalah ini adalah menyeimbangkan keduanya didalam pendidikan kita, keseimbangan lebih penting dari pada menonjolkan salah satu aspec saja.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 7, 2013 in aldha williyan

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: